Bandung merupakan sebuah daerah wisata yang banyak menjadi tujuan utama para eksekutif muda maupun para mahasiswa untuk berwisata. Mengapa demikian dan mengapa harus bandung?
Di karenakan suasananya yang nyamana dan udara yang sejuk dapat menjadi pilihan utama untuk berdarmawisata di bandung. Dan bandung sangat gampang di tuju karena mudah didatangi yang lokasinya dekat dengan beberapa kota besar di indonesia dan sejak adanya tol cipularang mobilitas ke bandungpun jadi semakin mudah beberapa yang bisa dinikmati di bandung di antaranya adalah:
Wisata kuliner yang sangat bisa membuat lidah bergoyang.
Distro dan beberAPA clothing yang menjamur di bandung juga menjadi pilihan untuk para anak muda pencinta style.
Musik-musik old school yang tak kalah asik dengan musik-musik yang sudah label seperti beberapa band ternama.
Suasana yang nyaman dan beberapa resort yang terdapat di bandung juga menjadi pendukung untuk sekedar main dan beristirahat sejenak di bandung.
Kamis, 20 Desember 2007
Rabu, 12 Desember 2007
koto gadang desa pusako
Geografi
Nagari Kotogadang terletak di dataran di antara Gunung Singgalang dan Ngarai Sianok dengan ketinggian 920 – 950 meter dari permukaan laut dengan suhu rata-rata berkisar antara 27 oC dan pada malam hari mencapai 20 oC. Nagari Kotogadang memiliki luas wilayah 640 Ha dengan batas-batas sebagai berikut:
* Sebelah Utara dengan Nagari Sianok VI Suku.
* Sebelah Selatan dengan Nagari Koto Tuo
* Sebelah Timur dengan Guguak Tabek Sarojo
* Sebelah Barat dengan Nagari Koto Panjang.
Pemerintahan
Jorong
Secara administrasi Nagari Kotogadang terdiri dari 3 jorong:
* Jorong Kotogadang
* Jorong Ganting
* Jorong Subarang Tigo Jorong
1. Kampung Pondok
2. Kampung Taruko
3. Kampung Baru
Penggunaaan lahan (tahun 2004) sebagian besar yaitu 300 ha dimanfaatkan untuk areal persawahan, pemukiman 42,8 ha, daerah perkebunan 59 ha, serta sisa yang masih diliputi kawasan hutan dan semak belukar.
Sawah
Sawah-sawah dibagi atas beberapa tumpak :
1. Kubu
2. Munggu
3. Ladang laweh
4. Kayu Katiak
5. Campago
6. Balai
7. Aur
8. Pejajahan
9. Bancah
10. Bancah tangah
11. Batu Balirik
12. Panta
13. Koto Tangah
14. Banda Malintang
15. Sikajuik
16. Badapak
17. Tapi Lambah
18. Lurah Pulai
19. Rawang
20. Tabek / Belakang Mesjid
21. Golek Aguang
22. Talago
23. Lungguak Batu
24. Limau
25. Pandam
26. Cimbam
27. Banda Gadang
28. Pugaran
29. BandaKatiak
30. BandaPanjang
31. Sibutuang
32. Puraweh
33. Pinggang Rangek
34. Tapi Rangek
35. Sumpitan Hamo
36. Padang Sikumpak
37. Banto
Sejarah
Nagari Kotogadang merupakan salah satu dari 11 nagari yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Asal usul Nagari Kotogadang menurut sejarahnya dimulai pada akhir abad ke-17, dimana ketika itu sekelompok kaum yang berasal dari Pariangan Padangpanjang mendaki dan menuruni bukit dan lembah, menyeberangi anak sungai, untuk mencari tanah yang elok untuk dipeladangi dan dijadikan sawah serta untuk tempat pemukiman.
Setelah lama berjalan, sampailah di sebuah bukit yang bernama Bukit Kepanasan. Disitulah mereka bermufakat akan membuat teratak, menaruko sawah, dan berladang yang kemudian berkembang menjadi dusun. Lama kelamaan, dikarenakan anak kemenakan bertambah banyak, tanah untuk bersawah dan berladang tidak lagi mencukupi untuk dikerjakan maka dibuatlah empat buah koto. Bercerailah kaum-kaum yang ada di bukit tersebut. Dimana 2 penghulu pergi ke Sianok, 12 penghulu dan 4 orang tua pergi ke Guguk, 6 penghulu pergi ke Tabeksarojo, dan 24 penghulu menetap di Bukit Kepanasan. Karena penghulu yang terbanyak tinggal di koto tersebut maka tempat itu dinamakan Kotogadang. Itulah nagari – nagari awal yang membentuk daerah IV Koto.
Kaum - kaum yang datang bersama ini kemudian membangun pemukiman dan bernagari dengan tidak melepaskan adat kebiasaan mereka. Dengan bergotong royong mereka membangun rumah-rumah gadang, sehingga sebelum tahun 1879 banyaklah rumah gadang yang bagus berikut dengan lumbungnya. Pada tahun 1879 dan 1880 terjadilah kebakaran besar sehingga memusnahkan perumahan-perumahan tersebut.
Penghidupan orang Kotogadang sebelum Alam Minangkabau berada dibawah pemerintah Hindia Belanda ialah bersawah, berladang, berternak, bertukang kayu dan bertukang emas. Pekerjaan bertukang emas anak negeri sangat terkenal di seluruh Minangkabau. Karena berkembangnya penduduk hasil yang diperoleh dari persawahan tidaklah mencukupi lagi. Mulailah orang Kotogadang pergi merantau ke negeri lain seperti Bengkulu, Medan dan lain-lain. Setelah pemerintah Hindia Belanda memerintah Alam Minangkabau, Kotogadang dijadikan ibu nagari dari Kelarasan IV Koto. Dibuatlah susunan pemerintahan yang baru dengan Tuanku Lareh sebagai pemimpin yang memerintah di kelarasan IV Koto dan Penghulu Kepala sebagai pemimpin pemerintahan nagari.
Suku dan Jurai
Suku
Penduduk yang telah bermukim itu tersusun berdasarkan suku dan kaum, dipimpin oleh Penghulu Suku yang disebut Datuk. Kotogadang terbagi atas empat suku yaitu:
I.Sikumbang :
1. Sikumbang Mudiak : empat paruik
2. Sikumbang Hilir : empat paruik
Kaum – kaum ini dinamakan Sikumbang nan Salapan Hindu
II.Koto :
1. Koto nan ampek paruik
2. Koto nan tigo paruik
Kaum – kaum ini dinamakan Koto nan Tujuah Paruik
III.Guci / Piliang : Guci terdapat tiga buah paruik
1. Guci Pacah
2. Guci Tabit Hanyir
3. Guci Parit Tahampai
Piliang terdapat tiga buah paruik
1. Piliang Panjang
2. Piliang Kamang / Piliang Tapi
3. Piliang Kampuang Teleng
Kaum – kaum ini dinamakan Guci / Piliang nan Anam Panghulu IV.Caniago:
1. Caniago Tapi
2. Caniago Tangah
3. Caniago Bodi
Kaum – kaum ini dinamakan Caniago nan Tigo Ninik
Jurai
Jurai dibagi atas tiga :
1. Jurai Mudiak
2. Jurai Tangah
3. Jurai Hilir
Itulah sebabnya dikatakan Kotogadang nan tigo jurai nan ampek suku.
Nagari Kotogadang terletak di dataran di antara Gunung Singgalang dan Ngarai Sianok dengan ketinggian 920 – 950 meter dari permukaan laut dengan suhu rata-rata berkisar antara 27 oC dan pada malam hari mencapai 20 oC. Nagari Kotogadang memiliki luas wilayah 640 Ha dengan batas-batas sebagai berikut:
* Sebelah Utara dengan Nagari Sianok VI Suku.
* Sebelah Selatan dengan Nagari Koto Tuo
* Sebelah Timur dengan Guguak Tabek Sarojo
* Sebelah Barat dengan Nagari Koto Panjang.
Pemerintahan
Jorong
Secara administrasi Nagari Kotogadang terdiri dari 3 jorong:
* Jorong Kotogadang
* Jorong Ganting
* Jorong Subarang Tigo Jorong
1. Kampung Pondok
2. Kampung Taruko
3. Kampung Baru
Penggunaaan lahan (tahun 2004) sebagian besar yaitu 300 ha dimanfaatkan untuk areal persawahan, pemukiman 42,8 ha, daerah perkebunan 59 ha, serta sisa yang masih diliputi kawasan hutan dan semak belukar.
Sawah
Sawah-sawah dibagi atas beberapa tumpak :
1. Kubu
2. Munggu
3. Ladang laweh
4. Kayu Katiak
5. Campago
6. Balai
7. Aur
8. Pejajahan
9. Bancah
10. Bancah tangah
11. Batu Balirik
12. Panta
13. Koto Tangah
14. Banda Malintang
15. Sikajuik
16. Badapak
17. Tapi Lambah
18. Lurah Pulai
19. Rawang
20. Tabek / Belakang Mesjid
21. Golek Aguang
22. Talago
23. Lungguak Batu
24. Limau
25. Pandam
26. Cimbam
27. Banda Gadang
28. Pugaran
29. BandaKatiak
30. BandaPanjang
31. Sibutuang
32. Puraweh
33. Pinggang Rangek
34. Tapi Rangek
35. Sumpitan Hamo
36. Padang Sikumpak
37. Banto
Sejarah
Nagari Kotogadang merupakan salah satu dari 11 nagari yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Asal usul Nagari Kotogadang menurut sejarahnya dimulai pada akhir abad ke-17, dimana ketika itu sekelompok kaum yang berasal dari Pariangan Padangpanjang mendaki dan menuruni bukit dan lembah, menyeberangi anak sungai, untuk mencari tanah yang elok untuk dipeladangi dan dijadikan sawah serta untuk tempat pemukiman.
Setelah lama berjalan, sampailah di sebuah bukit yang bernama Bukit Kepanasan. Disitulah mereka bermufakat akan membuat teratak, menaruko sawah, dan berladang yang kemudian berkembang menjadi dusun. Lama kelamaan, dikarenakan anak kemenakan bertambah banyak, tanah untuk bersawah dan berladang tidak lagi mencukupi untuk dikerjakan maka dibuatlah empat buah koto. Bercerailah kaum-kaum yang ada di bukit tersebut. Dimana 2 penghulu pergi ke Sianok, 12 penghulu dan 4 orang tua pergi ke Guguk, 6 penghulu pergi ke Tabeksarojo, dan 24 penghulu menetap di Bukit Kepanasan. Karena penghulu yang terbanyak tinggal di koto tersebut maka tempat itu dinamakan Kotogadang. Itulah nagari – nagari awal yang membentuk daerah IV Koto.
Kaum - kaum yang datang bersama ini kemudian membangun pemukiman dan bernagari dengan tidak melepaskan adat kebiasaan mereka. Dengan bergotong royong mereka membangun rumah-rumah gadang, sehingga sebelum tahun 1879 banyaklah rumah gadang yang bagus berikut dengan lumbungnya. Pada tahun 1879 dan 1880 terjadilah kebakaran besar sehingga memusnahkan perumahan-perumahan tersebut.
Penghidupan orang Kotogadang sebelum Alam Minangkabau berada dibawah pemerintah Hindia Belanda ialah bersawah, berladang, berternak, bertukang kayu dan bertukang emas. Pekerjaan bertukang emas anak negeri sangat terkenal di seluruh Minangkabau. Karena berkembangnya penduduk hasil yang diperoleh dari persawahan tidaklah mencukupi lagi. Mulailah orang Kotogadang pergi merantau ke negeri lain seperti Bengkulu, Medan dan lain-lain. Setelah pemerintah Hindia Belanda memerintah Alam Minangkabau, Kotogadang dijadikan ibu nagari dari Kelarasan IV Koto. Dibuatlah susunan pemerintahan yang baru dengan Tuanku Lareh sebagai pemimpin yang memerintah di kelarasan IV Koto dan Penghulu Kepala sebagai pemimpin pemerintahan nagari.
Suku dan Jurai
Suku
Penduduk yang telah bermukim itu tersusun berdasarkan suku dan kaum, dipimpin oleh Penghulu Suku yang disebut Datuk. Kotogadang terbagi atas empat suku yaitu:
I.Sikumbang :
1. Sikumbang Mudiak : empat paruik
2. Sikumbang Hilir : empat paruik
Kaum – kaum ini dinamakan Sikumbang nan Salapan Hindu
II.Koto :
1. Koto nan ampek paruik
2. Koto nan tigo paruik
Kaum – kaum ini dinamakan Koto nan Tujuah Paruik
III.Guci / Piliang : Guci terdapat tiga buah paruik
1. Guci Pacah
2. Guci Tabit Hanyir
3. Guci Parit Tahampai
Piliang terdapat tiga buah paruik
1. Piliang Panjang
2. Piliang Kamang / Piliang Tapi
3. Piliang Kampuang Teleng
Kaum – kaum ini dinamakan Guci / Piliang nan Anam Panghulu IV.Caniago:
1. Caniago Tapi
2. Caniago Tangah
3. Caniago Bodi
Kaum – kaum ini dinamakan Caniago nan Tigo Ninik
Jurai
Jurai dibagi atas tiga :
1. Jurai Mudiak
2. Jurai Tangah
3. Jurai Hilir
Itulah sebabnya dikatakan Kotogadang nan tigo jurai nan ampek suku.
Jumat, 07 Desember 2007
in the Name of God, the Compassionate, the Merciful
The Theophany of Perfection
Listen, O dearly beloved!
I am the reality of the world, the centre of the circumference,
I am the parts and the whole.
I am the will established between Heaven and Earth,
I have created perception in you only in order to be the object of My Perception.
If then you perceive Me, you perceive yourself.
But you cannot perceive Me through yourself.
It is through My Eyes that you see Me and see yourself,
Through your eyes you cannot see Me.
Dearly beloved!
I have called you so often and you have not heard Me.
I have shown Myself to you so often and you have not seen Me.
I have made Myself fragrance so often, and you have not smelled Me,
Savorous food, and you have not tasted Me.
Why can you not reach Me through the object you touch
Or breathe Me through sweet perfumes?
Why do you not see Me? Why do you not hear Me?
Why? Why? Why?
For you My delights surpass all other delights,
And the pleasure I procure you surpasses all other pleasures.
For you I am preferable to all other good things,
I am Beauty, I am Grace.
Love Me, love Me alone.
Love yourself in Me, in Me alone.
Attach yourself to Me,
No one is more inward than I.
Others love you for their own sakes,
I love you for yourself.
And you, you flee from Me.
Dearly beloved!
You cannot treat Me fairly,
For if you approach Me,
It is because I have approached you.
I am nearer to you than yourself,
Than your soul, than your breath.
Who among creatures
Would treat you as I do?
I am jealous of you, over you,
I want you to belong to no other,
Not even to yourself.
Be Mine, be for ME as you are in Me,
Though you are not even aware of it.
Dearly beloved!
Let us go toward Union.
And if we find the road
That leads to separation,
We will destroy separation.
Let us go hand in hand.
Let us enter the presence of Truth.
Let It be our judge
And imprint its seal upon our union
For ever.
Muhyiddin Ibn ‘Arabi
Listen, O dearly beloved!
I am the reality of the world, the centre of the circumference,
I am the parts and the whole.
I am the will established between Heaven and Earth,
I have created perception in you only in order to be the object of My Perception.
If then you perceive Me, you perceive yourself.
But you cannot perceive Me through yourself.
It is through My Eyes that you see Me and see yourself,
Through your eyes you cannot see Me.
Dearly beloved!
I have called you so often and you have not heard Me.
I have shown Myself to you so often and you have not seen Me.
I have made Myself fragrance so often, and you have not smelled Me,
Savorous food, and you have not tasted Me.
Why can you not reach Me through the object you touch
Or breathe Me through sweet perfumes?
Why do you not see Me? Why do you not hear Me?
Why? Why? Why?
For you My delights surpass all other delights,
And the pleasure I procure you surpasses all other pleasures.
For you I am preferable to all other good things,
I am Beauty, I am Grace.
Love Me, love Me alone.
Love yourself in Me, in Me alone.
Attach yourself to Me,
No one is more inward than I.
Others love you for their own sakes,
I love you for yourself.
And you, you flee from Me.
Dearly beloved!
You cannot treat Me fairly,
For if you approach Me,
It is because I have approached you.
I am nearer to you than yourself,
Than your soul, than your breath.
Who among creatures
Would treat you as I do?
I am jealous of you, over you,
I want you to belong to no other,
Not even to yourself.
Be Mine, be for ME as you are in Me,
Though you are not even aware of it.
Dearly beloved!
Let us go toward Union.
And if we find the road
That leads to separation,
We will destroy separation.
Let us go hand in hand.
Let us enter the presence of Truth.
Let It be our judge
And imprint its seal upon our union
For ever.
Muhyiddin Ibn ‘Arabi
Langganan:
Komentar (Atom)
